lelap seperti belum akan sampai
tubuh ini pun enggan berpenat
pacu waktu memicu peluh warna api
setiba malam menyelinap
perkenalan kita yang sekejap

kesiur angin basah dari lembah asing
renyah mengikat jabat
kupilah getar rusuh
sebelum tautan gelak menantang tegak
sama berentak bimbang yang gamang
ketika kutakar rencana kembali pulang

2008

Iklan
SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

(lebih…)

di sini, malam berkhianat
dingin punya kemarau
apa mau kukata
sekuntum mawar mati muda

matahari belia yang licik
muncul melepas ikatan
turun sembilan jengkal
dendamnya riang sudah
cahaya yang masak
tepat
membidik puncak kepala

2008

CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

(lebih…)

tak habis-habis gaung saluang
mengantar malam ke batas pagi
senandung syahdu kesiur angin pesisiran
menyimpan dendang harum gelombang
serta bagan-bagan dilamun asmara petang

lepaslah kami melaut
bersalam lepas meski musim masih galau
menghalau rinai yang memutus pandang

tapi akan tiba juga sehasta masa
mengantar tatap ke batas petang tenang
tempat kami kembali melabuhkan rindu

begitulah
susun sepuluh jari mencuat sepenuh hati
haturkan harap – mengatup derap gagap
setelah hari menaut hati ke palung janji
sebagai doa yang ditanak masing diri

2008

5Juli08

5Juli08

di hari penantian kita bicarakan sebuah
epilog

dari semenanjung, tuan berlagu kidung
syair kelima
riak gerak palung

menjelma irama,
tetaplah berdendang tentang awan
mengiring jalan
sebelum buih mengeruh pertanda kiamat
berbaur pasir

aku tak sempat kirimkan mikail menjarah
hawa,
biar pria tertusuk luka
ajaran demam semalaman

bacalah, dengan menyebut nama nafasmu
adakah sejak bayi kau beri ia nama?
padahal tuhan menjanjikan abu di doa ibu
mengusung laknat yang begitu kau benci
dan sesekali tak kau jumpai ia berlari
hingga kenangan
tak melekat barang sedetik saat gagapnay
arah lorong
menuju kastil penghambaan,
barangkali kau saksikan dewa mengiang
dalam hiruknya upacara raya

2007

-perairan
sebelumnya kita cuma punya sekoci
yang melaut dengan teduh jiwa merdeka

berdendang
melipur larut pada sepi yang kubur

-tanah tengah
sengaja kulepas anak-anak bermain
terbang dari bangku ke bangku
riuhkan kelas sampai memekak

terjagalah takdir pembebasan
hidup itu tertanam dengan sendirinya
sampai musim menyabit tiba
berwarna beragam rupa
seperti dulu,
kita agungkan kemudaan yang mekar

-bacalah, jiwaku yang bergolak
betapa dalam semarak nanar
kurindui negri
selalu bergerak sendiri
mari,
kembali ke musim buru
sejak berpulang kapal-kapal asap itu

2007