CINTA DI ATAS PERAHU CADIK

Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

(lagi…)

tak habis-habis gaung saluang
mengantar malam ke batas pagi
senandung syahdu kesiur angin pesisiran
menyimpan dendang harum gelombang
serta bagan-bagan dilamun asmara petang

lepaslah kami melaut
bersalam lepas meski musim masih galau
menghalau rinai yang memutus pandang

tapi akan tiba juga sehasta masa
mengantar tatap ke batas petang tenang
tempat kami kembali melabuhkan rindu

begitulah
susun sepuluh jari mencuat sepenuh hati
haturkan harap – mengatup derap gagap
setelah hari menaut hati ke palung janji
sebagai doa yang ditanak masing diri

2008

5Juli08

5Juli08

di hari penantian kita bicarakan sebuah
epilog

dari semenanjung, tuan berlagu kidung
syair kelima
riak gerak palung

menjelma irama,
tetaplah berdendang tentang awan
mengiring jalan
sebelum buih mengeruh pertanda kiamat
berbaur pasir

aku tak sempat kirimkan mikail menjarah
hawa,
biar pria tertusuk luka
ajaran demam semalaman

bacalah, dengan menyebut nama nafasmu
adakah sejak bayi kau beri ia nama?
padahal tuhan menjanjikan abu di doa ibu
mengusung laknat yang begitu kau benci
dan sesekali tak kau jumpai ia berlari
hingga kenangan
tak melekat barang sedetik saat gagapnay
arah lorong
menuju kastil penghambaan,
barangkali kau saksikan dewa mengiang
dalam hiruknya upacara raya

2007

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »