Puisi C. H. Yurma


lelap seperti belum akan sampai
tubuh ini pun enggan berpenat
pacu waktu memicu peluh warna api
setiba malam menyelinap
perkenalan kita yang sekejap

kesiur angin basah dari lembah asing
renyah mengikat jabat
kupilah getar rusuh
sebelum tautan gelak menantang tegak
sama berentak bimbang yang gamang
ketika kutakar rencana kembali pulang

2008

di sini, malam berkhianat
dingin punya kemarau
apa mau kukata
sekuntum mawar mati muda

matahari belia yang licik
muncul melepas ikatan
turun sembilan jengkal
dendamnya riang sudah
cahaya yang masak
tepat
membidik puncak kepala

2008

tak habis-habis gaung saluang
mengantar malam ke batas pagi
senandung syahdu kesiur angin pesisiran
menyimpan dendang harum gelombang
serta bagan-bagan dilamun asmara petang

lepaslah kami melaut
bersalam lepas meski musim masih galau
menghalau rinai yang memutus pandang

tapi akan tiba juga sehasta masa
mengantar tatap ke batas petang tenang
tempat kami kembali melabuhkan rindu

begitulah
susun sepuluh jari mencuat sepenuh hati
haturkan harap – mengatup derap gagap
setelah hari menaut hati ke palung janji
sebagai doa yang ditanak masing diri

2008

5Juli08

5Juli08

Halaman Berikutnya »